(ilustrasi/internet)
Karena
kami lahir di desa, biasanya cuman perlu mendaftarkan diri di KUA saja, tidak
mengadakan pesta apapun.
Setau
kami juga tidak berencana begitu cepat punya anak, setelah menikah setahun,
suamiku akhirnya mendapat kenaikan gaji dan bisa menabung sedikit.
Ditambah
dengan uang pinjaman ke sanak saudara, akhirnya kami membeli rumah kecil.
Di hari
kami mendapatkan kunci rumah kami, suamiku memelukku dan berkata.
"Istriku,
aku berjanji akan memberikan keluarga bahagia, mulai sekarang, kita punya
'rumah' yang sebenarnya, kamu harus bersiap, aku akan berjuang, kamu harus jaga
kesehatan, kita akan segera punya anak Aku mengangguk
bahagia mendengar semua ini.
bahagia mendengar semua ini.
Ku tak
tahu apa aku yang salah, atau suamiku yang berbeda, sejak kami membeli rumah,
karena harus mengembalikan uang pinjaman, ekonomi kami memang lebih sulit dan
lebih banyak tekanan.
Tapi
sejak itu, suamiku sering berkata harus lembur, awalnya aku pikir lembur
seperti biasa, tapi dia harus lembur setiap hari, dan pulang larut sampai jam 1
atau jam 2 subuh.
Sepulang
kerja, ia langsung pergi mandi dan tidak pernah perhatikan aku, kemudian ia
pasti langsung mencuci bajunya.
Saat
itu aku pulang kerja lebih cepat dan menunggu di depan kantornya. Ternyata,
suamiku benar-benar tidak lembur! Begitu jam pulang kerja dia langsung keluar
kantor dan mengendarai sepedanya, tapi ia tidak pulang ke rumah.
Hal ini
membuat aku semakin yakin ia selingkuh! Apalagi ia pulang langsung mandi dan
cuci baju karena takut aku mencium wangi wanita lain.

EmoticonEmoticon